Agar Tepat Sasaran, Mensos Tegaskan Pemerintah Terus Perbarui Data Penerima BLT BBM

Jakarta – Menteri Sosial Tri Rismaharini mengatakan, bahwa pemerintah melalui Kementerian Sosial terus melakukan pembaruan data penerima bantuan sosial (bansos), termasuk Bantuan Langsung Tunai (BLT) BBM, yang saat ini tengah dalam proses salur agar tepat sasaran.

Hal ini disampaikan Mensos saat menghadiri undangan dialog terbuka yang diadakan Kelompok Cipayung Plus bertema ‘Kenaikan Harga BBM Kepentingan Siapa? Masalah atau Solusi?’ di Menteng, Jakarta Pusat.

Baca Juga :   Kemenparekraf Siapkan 3 Kebijakan untuk Menyikapi Kenaikan Harga BBM

“Agar bansos itu tepat salur, tepat sasaran, yang kami lakukan adalah perbaikan data itu sendiri,” ucapnya berdasarkan keterangan resmi yang diterima Selasa, (13/09/2022)

Mensos Risma membeberkan, saat ini jajarannya tengah melakukan updating data setiap bulan. “Setiap bulan, saya buat SK baru untuk memastikan data tetap update. Tidak setahun dua kali, tapi setiap bulan, karena pergerakan data itu dinamis sekali,” sebutnya.

Selain rutin updating data, penerima BLT ini juga diusulkan dan didata oleh daerah masing-masing. “Daerahlah yang harus melakukan pendataan. Tidak ada yang tidak bisa karena ada perangkat desa/kelurahan dan perangkat kecamatan,” ungkap Mensos.

Baca Juga :   Kemendagri: Tangani Kemiskinan Ekstrem dengan Kebijakan Berbasis Data

Hal tersebut, sesuai dengan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin yang menyebutkan bahwa seorang fakir miskin yang belum terdata dapat secara aktif mendaftarkan diri kepada lurah/kepala desa.

Begitu juga dengan kepala keluarga yang telah terdaftar sebagai fakir miskin, wajib melaporkan setiap perubahan data anggota keluarganya kepada lurah/kepala desa, sehingga lurah/kepala desa dapat menyampaikan pendaftaran/perubahan sebagaimana dimaksud kepada Bupati/Walikota melalui Camat.

Hal ini diharapkan bisa menekan angka ketidak-tepat-sasaran penerima BLT lantaran layak tidaknya target ditentukan sendiri oleh daerah yang bersangkutan. “Kalau daerah mengatakan mereka tidak mampu ya diusulkan saja. Tapi, kalau mereka dianggap mampu, ya harus didrop,” tegasnya.

Baca Juga :   Terkait Polemik Gereja Cilegon, Menag Yaqut Bakal Diskusikan Solusi dengan Wali Kota dan Tokoh Masyarakat

Updating data setiap bulan dan usulan penerima BLT oleh daerah ini berkontribusi pada padannya Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) milik Kemensos dengan data kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil). “Yang jelas, data kami (dalam DTKS) harus padan dengan Dukcapil. Memang, tidak mudah, tapi bukan berarti tidak bisa,” tandas mantan Walikota Surabaya dua periode tersebut.

Mensos juga bilang, pihaknya mengakomodasi masyarakat dengan fitur Usul Sanggah pada Aplikasi Cek Bansos, yang memungkinkan masyarakat untuk ikut memberi masukan lewat aplikasi apakah penerima BLT sudah tepat atau belum.

Aplikasi ini diklaim sebagai terobosan dari permasalahan data selama ini, yakni adanya orang yang berhak mendapatkan bantuan, tapi tidak dapat (exclusion error), dan ada yang tidak berhak, tapi mendapat bantuan (inclusion error).

Baca Juga :   Dibajak Pinguin Sejak 25 Agustus, Akun Twitter Resmi TNI AD Sudah Normal Kembali

“Dengan adanya menu ini, masyarakat bisa mendaftarkan atau menyanggah diri sendiri, keluarga atau orang lain yang berhak dan tidak berhak mendapatkan bansos sesuai dengan wilayah masing-masing,” pungkas Risma.

Di samping Aplikasi Cek Bansos dengan laman resmi cekbansos.kemensos.go.id dan Jaga Bansos, Kemensos juga memiliki Aplikasi Whistleblowing System Tindak Pidana Korupsi (WBS-TPK) yang terintegrasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Lewat aplikasi/laman ini, disampaikan Mensos, KPK juga bisa memantau proses penyaluran, hingga segala bentuk penyelewengannya day to day. []