Eropa Barat Mengalami Gelombang Panas

Ilustrasi kebakaran. (Foto: Narsum.id/Pixabay/Ylvers)

Narsum.id | Jakarta – Prancis dan Inggris mengalami kenaikan suhu pada Rabu, mendekati panas terik yang telah melanda Spanyol dan Portugal saat kebakaran hutan menghancurkan bentangan luas kawasan hutan Eropa Barat.

Suhu di sebagian besar Semenanjung Iberia telah melebihi 40 derajat Celcius (104 derajat Fahrenheit) minggu ini.

Di barat daya Prancis, kebakaran hutan yang berkobar sejak Selasa telah merobohkan 1.000 hektar pohon pinus di selatan Bordeaux pada Rabu, mendorong evakuasi 150 warga dari rumah mereka.

Di dekat Bukit Pasir Pilat, bukit pasir tertinggi di Eropa, kebakaran lain menghanguskan sekitar 700 hektar pohon pinus tua, kata pihak berwenang, dengan api masih belum dapat dipadamkan.

Baca Juga :   Ingin Lihat Komodo? Presiden Sarankan ke Pulau Rinca, Harganya Sama

Prefek regional Fabienne Buccio mengatakan bahwa kebakaran menyebar lebih dari lima kilometer (tiga mil), didorong oleh vegetasi kering. Sekitar 6.000 pekemah di dekat bukit pasir dievakuasi saat petugas pemadam kebakaran bekerja sepanjang malam di medan berpasir.

“Ada api di puncak pohon setinggi 30 meter. Kami bisa melihat mereka bergerak menuju desa, itu menakutkan,” kata walikota Mylene Doreau kepada AFP.

Perdana Menteri Elisabeth Borne memperingatkan gelombang panas, yang diprediksi berlangsung selama 10 hari, akan mempengaruhi kesehatan masyarakat dengan sangat cepat, terutama yang paling rentan.

Sejumlah kota, seperti Toulouse dan Lourdes, telah membuat perubahan pada program perayaan Hari Bastille mereka pada Kamis untuk membatasi risiko kebakaran yang tidak disengaja, sementara Nimes membatalkan pesta kembang api tradisional sama sekali.

Baca Juga :   Tiga Pekerjaan Rumah yang Perlu Dilakukan Dewan Komisioner OJK 2022-2027

Para ilmuwan mengatakan bahwa gelombang panas menjadi lebih sering terjadi akibat perubahan iklim, fenomena yang sebelumnya menimpa Prancis, Portugal dan Spanyol terjadi pada pertengahan Juni lalu.

Bahkan, juru bicara Organisasi Meteorologi Dunia Clare Nullis memperkirakan ini akan memburuk.

“Itu juga merupakan musim yang sangat buruk bagi gletser”, ungkapnya.[]